Ludahi Mahkamah Kehormatan Dewan, Maafkan Aku Meludah ke Arah Wajahmu yang Mulia

NewsIndo.co - Ludahi Mahkamah Kehormatan Dewan. "Maafkan Aku Meludah ke Arah Wajahmu yang Mulia" (Mahkamah Kehormatan Dewan), itulah sebuah judul puisi yang disampaikan oleh Sosiolog Universitas Indonesia Imam B Prasodjo. Ia muak akan apa yang terjadi di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR, Senin 7 Desember.


Mahkamah terhormat itu baru saja menggelar sidang etik kasus dugaan pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla oleh Ketua DPR Setya Novanto. Sidang kasus pencatutan nama petinggi negara terkait perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia itu berlangsung tertutup.


Sidang untuk Novanto itu berjalan berbeda dengan dua sidang sebelumnya yang menghadirkan Menteri ESDM Sudirman Said dan Presiden Direktur PT FI Maroef Sjamsoeddin.


Melalui puisi berjudul Maafkan Aku Meludah ke Arah Wajahmu yang Mulia Imam menilai apa yang dipertontonkan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) merupakan kebobrokan moral. Panggilan 'yang mulia' untuk Anggota DPR yang diberi hak menggunakan jubah layaknya hakim pengadilan itu membuat hatinya terluka.


Ratusan juta masyarakat negeri ini menyaksikan kepalsuan 17 Anggota MKD. Meminjam istilah yang sering disebut belakangan, MKD bak masuk angin dalam menuntaskan kasus Novanto.


Tenggorokan Imam dan masyarakat digambarkan begitu kering karena tontonan konyol itu. Imam tak kuat, ia meludahi 17 orang yang tampak bangga dengan panggilan 'yang mulia' itu melalui puisi.




[caption id="attachment_127" align="aligncenter" width="850"]Ludahi Mahkamah Kehormatan Dewan, Maafkan Aku Meludah ke Arah Wajahmu yang Mulia Ludahi Mahkamah Kehormatan Dewan, Maafkan Aku Meludah ke Arah Wajahmu yang Mulia[/caption]

Berikut petikan puisi yang ditulis Imam dalam akun Facebook-nya, sesaat setelah sidang etik Novanto digelar.


Maafkan Aku Meludah ke Arah Wajahmu yang Mulia


Tidakkah kita melihat
Sebuah kebobrokan moral
Kasat mata diperagakan
Integritas begitu unggul bersinar
Bersanding dengan gelapnya kepalsuan


Panggilan "yang mulia" berkali diucapkan
Namun hati begitu terluka mendengar
Karena gelar dan perilaku tak bersesuaian
Karena baju kehormatan disalahgunakan
Dijadikan penutup kebusukan dan kebobrokan


250 juta pasang mata melihat
Tenggorokan begitu kering terjerat
Tak mampu menelan ludah
Melihat kemunafikan di puncak kebejatan


Karena itu yang mulia
Maafkan aku
Kali ini aku tak tahan
Harus meludah ke arah wajahmu
Wajah kepalsuan yang bagiku
Begitu menyebalkan dan memuakkan OJE

Subscribe to receive free email updates: