Orang Batak Fisikawan Pertama Di Indonesia Bahkan Asia Tenggara

NewsIndo.co - Orang Batak Fisikawan Pertama Di Indonesia Bahkan Asia Tenggara adalah Prof. Pantur Silaban, Ph.D. (lahir di Sidikalang, Dairi, 11 November 1937; umur 78 tahun) adalah salah seorang fisikawan Indonesia. Ia menjadi guru besar fisika teori Institut Teknologi Bandung per Januari 1995 dan dikenal sebagai fisikawan pertama Indonesia (bahkan Asia Tenggara) dalam teori relativitas khususnya Relativitas umum yang tergolong langka di bidangnya.

Pada tahun 1967, 3 tahun setelah diangkat menjadi staf pengajar Fisika (1964), putra dari Israel Silaban dan Regina br Lumbantoruan ini berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar relativitas umum dan ia diterima di pusat kajian gravitasi Universitas Syracuse langsung di bawah bimbingan Peter Gabriel Bergmann dan Joshua N. Goldberg. Di sana Pantur Silaban memasuki isu paling hangat yakni mengawinkan Medan Kuantum dan Relativitas Umum untuk meminak Teori Kuantum Gravitasi. Itulah impian terkenal Albert Einstein yakni meramu keempat interaksi yang ada di alam semesta dalam satu formulasi yang gagal ia peroleh sampai akhir hayatnya: Grand Unified Theory. Pekerjaan ini diselesaikan dengan disertasi yang berjudul "Null Tetrad, Formulation of the Equation of Motion in General Relativity" pada tahun 1971.


Setelah kembali ke Indonesia, Pantur Silaban menjadi orang pertama di Indonesia yang mempelajari relativitas Einstein sampai tingkat doktor. Beberapa risetnya diterbitkan Journal of General Relativity and Gravitation. Sekian banyak makalahnya dimuat berbagai proceedings. Seniornya, Prof. Achmad Baiquni (almarhum), selalu menyebut nama Pantur Silaban sebagai otoritas bila menyinggung nama Einstein dan beberapa kali diundang sebagai pembicara di International Centre for Theoretical Physics (ICTP), Trieste, Italia, yang didirikan Nobelis Fisika, Abdus Salam. Pantur Silaban selalu mencermati indikasi akan keberhasilan Teori Kuantum Gravitasi hingga kini.

Menjadi orang Indonesia pertama bahkan Asia Tenggara di bidang teori ilmu relativitas yang diturunkan Albert Einstein, nama Pantur Silaban patut diacungi jempol. Ketertarikannya terhadap fisika diakui pria kelahiran Sidikalang, Dairi, 11 November 1937 ini bermula saat ia lulus dari almamaternya, Institut Teknologi Bandung jurusan Fisika. Selepasnya lulus di ITB dan menjadi staf pengajar di lembaga yang sama, pria yang akrab disapa Pantur ini kemudian melanjutkan studinya di Universitas Syracuse untuk memperdalam ilmu relativitas yang telah ia dapat.

Di sana, ayah dari empat putri ini mengambil teori Kuantum Gravitasi dengan menggabungkan teori Medan Kuantum dan Relativitas Umum. Teori tersebut sebelumnya disebut-sebut oleh para pakar adalah teori yang ingin didalami Einstein lebih dalam. Hingga pada tanggal 12 Juni 1971, ia dinyatakan sebagai orang Indonesia pertama yang mendalami teori peninggalan Einstein tersebut.

Dikenal sebagai orang yang tertarik dengan segala hal tentang alam, suami dari Rugun Lumbantoruan ini bahkan seringkali memberikan materi tentang perkembangan alam dari tingkat renik hingga jagat raya di berbagai acara seperti seminar dan simposium baik nasional maupun internasional. Ketika ditanya alasan mengapa demikian, peraih Achmad Bakrie 2009 kategori sains ini menyatakan bahwa selama menggeluti dunia fisika khususnya alam, ia merasa semakin dekat dengan Tuhan. Maka, ketika ia dinobatkan sebagai pemenang Achmad Bakrie tersebut, ia hanya bisa terkejut, karena ia merasa tak ada apa-apanya dibanding Tuhan.

Dalam keseharian, Pantur dikenal sebagai sosok yang serius namun lucu. Selera humornya bahkan dinilai cukup menghibur tak hanya bagi mahasiswanya, tapi juga bagi kerabat dekat dan banyak orang. Lihat saja guyonan tetapnya yang paling dihafal oleh banyak orang termasuk mahasiswa fisika elektro yang diajarnya.

Subscribe to receive free email updates: