Putra Batak Pencipta Lagu Nasional Satu Nusa Satu Bangsa

Satu Nusa Satu Bangsa adalah lagu nasional Indonesia yang diciptakan oleh Liberty Manik, dan lagu tersebut pertama kali diputar melalui siaran radio pada tahun 1947.

Liberty Manik (lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, 21 November 1924 – meninggal 16 September 1993 pada umur 68 tahun) adalah seorang komponis dan pengajar musik di Institut Seni Indonesia (Yogyakarta). Ia juga dikenal sebagai filolog (ahli bahasa) Batak kuno.

Setelah Liberty Manik menyelesaikan pendidikan dasar melanjutkan ke sekolah keguruan HIK di Muntilan, Magelang. Menyelesaikan studi doktor musik di Universitas Berlin, Jerman dengan predikat cum laude. Disertasinya mengenai musik Arab pada zaman Abad Pertengahan.

Di tanah kelahirannya Sidikalang, didirikan patung Liberty Manik di Lokasi Taman Wisata Iman untuk mengenang ia. Karya yang dia hasilkan adalah sebagai berikut :

  1. Pencipta lagu nasional Satu Nusa Satu Bangsa, Desaku.

  2. Menerjemahkan dan mementaskan oratorium Mattheus Passion dan Weichnachtsoratorim karangan J.S. Bach di Yogyakarta tahun 1980-an.

Beliau adalah Doktor Musik dari Jerman, Beliau orang yang bisa melakukan apa saja, seperti; Pemain biola, penyanyi, penyiar radio RRI Yogyakarta, penulis buku, jurnalis majalah, dan yang terakhir sebagai pencipta lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Lagu ini diciptakan oleh Manik setelah dirinya melihat sendiri semangat perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Satu Nusa Satu Bangsa pertama kali diputar melalui siaran radio di tahun 1947, ketika terjadinya agresi Belanda pertama. Beliau akhirnya mendapat anugerah bintang Budaya Paramadharma di tahun 2007. Dan Beliau meninggal dunia di tahun 1993, dalam usianya 69 tahun.

Lirik lagu

Cipt. Liberty Manik
SATU NUSA SATU BANGSA
Satu nusa
Satu bangsa
Satu bahasa kita

Tanah air
Pasti jaya
Untuk Selama-lamanya

Indonesia pusaka
Indonesia tercinta
Nusa bangsa
Dan Bahasa
Kita bela bersama

DESAKU
Cipt. L.manik

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai taulanku

Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai

Subscribe to receive free email updates: