Sumatera Barat Provinsi "DAJJAL", Ini Tanggapan Komunitas Muda Minang Rantau

NewsIndo.co - Dajal atau Dajjal (bahasa Arab: الدّجّال ad-Dajjāl) adalah seorang tokoh dalam eskatologi Islam yang akan muncul menjelang kiamat. Dajal dikatakan kafir dan jahat, pembawa fitnah (ujian) terbesar dan tidak ada ujian yang terbesar selain itu. Kemudian para nabi sebelum Nabi Muhammad telah pula menjelaskan tentang Dajal kepada umatnya, hanya tidak sedetail penjelasan Muhammad, seperti Dajal adalah seorang yang pecak (buta) disalah satu matanya.


Kata "Dajjal" ini Kembali di ucapkan oleh M. Riza Chalid, dia menyebut Padang (Sumbar) sebagai provinsi "Dajjal" dalam rekaman percakapan yang dibuka ke publik. Dalam percakapan itu juga melibatkan Presiden Direkur Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin dan Ketua DPR RI Setya Novanto.


Pernyataan M. Riza Chalid tersebut tidak bisa diterima begitu saja oleh Komunitas Muda Minang Rantau (Kommintau) di Jakarta. Kommintau mengutuk keras perkataan M. Riza Chalid yang mengina sekaligus menyudutkan Ranah Minang tersebut.




[caption id="attachment_162" align="aligncenter" width="850"]Sumatera Barat Provinsi DAJJAL, Ini Tanggapan Komunitas Muda Minang Rantau Newsindo co Sumatera Barat Provinsi DAJJAL, Ini Tanggapan Komunitas Muda Minang Rantau[/caption]

Dikatakan oleh Yandika Putra yang merupakan Direktur Bidang Seni dan Budaya Kommintau, perkataan Riza Chalid tersebut telah menyakiti perasaan masyarakat Minang baik di Sumbar sendiri maupun di daerah rantau.


"Kita tidak terima pernyataan Riza. Apa maksudnya menyebut Sumbar daerah Dajjal?," kata Yandika, seperti dikutip dari minangkabaunews.com.


Kommintau mendesak Riza Chalid untuk minta maaf kepada masyarakat Minang. Meski begitu, lanjut Yandika, bukan berarti masalah akan selesai begitu saja. Kemungkinan untuk menempuh jalur hukum akan dilakukan.


"Besar kemungkinan dalam waktu dekat ada organisasi masyarakat Minang yang akan melaporkan Riza Chalid," kata Yandika.


Yandika memperkirakan alasan Riza Chalid menyebut Sumbar begitu karena sistem adat yang berlaku, dimana tanah ulayat tidak mudah begitu saja diambil investor.


"Bisa jadi Riza Chalid pernah mencoba berinvestasi di Sumbar tapi gagal karena adat istiadat yang berlaku. Sehingga dia meluapkan emosi nya dengan merusak nama ranah Minang kepada lawan bicaranya," jelas Yandika.


Dia juga mengharapkan Pemda di Sumbar mencatat nama Riza Chalid dengan jelas dalam daftar hitam. Jika ada masuk ke Sumbar untuk investasi langsung ditolak. (sng/minangkabaunews.com)

Subscribe to receive free email updates: