3 Pekerja Asal Korea Yang Menganiaya Warga Pahae Tidak Terdaftar diImigrasi

Newsindo.co - Tiga tenaga kerja asing (TKA) asal Korea Selatan yang bekerja di PT Power Tech, subkontraktor PT Hyundai, merupakan salah satu investor di Sarulla Operation Limited (SOL) Luat Pahae, Taput, tak terdaftar di Imigrasi Kelas II Pematangsiantar.

Ditemui New Tapanuli, Kamis (28/1), Kepala Kantor Imigrasi Pematangsiantar, Jaya Saputra memastikan ketiga tenaga kerja asing itu, masing-masing Choi Jung Hwan, Yun Nam Sik dan Lee Hak Ho, teregistrasi di data kantor Imigrasi yang wilayah kerjanya mencakup Tapanuli Utara.

“Jadi sudah dicek, nama ketiganya tidak terdaftar,” katanya.

Menurut Jaya, tak hanya TKA atau penjaminnya saja yang tak membuat laporan, termasuk perusahaannya juga tidak melaporkan ketiganya.

Namun begitu, Jaya mengaku harus melakukan pengecekan lagi terhadap dokumen yang dipegang ketiganya. Sebab ada juga tenaga kerja yang perusahaan induknya berada di Jakarta, namun pekerjanya ditempatkan di daerah.

“Saya baru tahu soal ketiganya. Memang ada juga yang seperti itu. Terdaftar di Imigrasi Jakarta misalnya, dan perusahaan menugaskan mereka ke sini. Tapi begitupun, pada dokumen harus dijelaskan di mana posisinya bekerja. Misalnya dia bekerja di Taput, harus ada di dokumen yang menyatakan si pekerja berada di wilayah keimigrasian Pematangsiantar, lalu harus melapor ke sini.”

Dia menjelaskan, untuk melakukan pengecekan dan tindakan terhadap pekerja asing, harus ada laporan terlebih dulu, dalam hal ini dari instansi resmi.

“Makanya saya baru tahu ini, ada tiga pekerja asal Korea yang berurusan dengan hukum. Jadi kita masih menunggu laporan dari kepolisian.”

Apalagi katanya, ketiganya sedang diperiksa terkait dugaan kasus penganiayaan.

“Penganiayaan itu pidana umum, bukan pidana keimigrasian. Dalam hal ini kita menunggu laporan resmi dari kepolisian tentang dokumen dan izin-izin mereka,” tambahnya.

Sebab menurutnya, pidana umum itu bukan ranah Imigrasi, tetapi kepolisian, kejaksaan dan pengadilan.

“Kita tunggu saja pemeriksaannya. Jika ditetapkan tersangka nantinya, tentu berkas lanjut dan masuk ke kejaksaan. Setelah itu tentu disidang dan diputus. Kalau putusan itu sudah inkrah nantinya, yang bersangkutan harus menjalani hukuman di Indonesia.Nah, setelah bebas, di situlah kita berperan. Baru izin tinggalnya nanti dicabut dan yang bersangkutan dideportasi.”

Seorang pekerja asing itu harus memiliki dokumen lengkap. Mulai dari izin kerja dari Kementerian Tenaga Kerja. Dimana pada izin itu juga harus dijelaskan tujuan kerja dan wilayahnya. Kemudian seorang tenaga kerja asing juga harus dilengkapi visa tinggal terbatas.

“Visa tinggal terbatas inilah yang nantinya dikonversi menjadi KITAS atau kartu izin tinggal sementara.”

Jaya juga mengaku tak menutup kemungkinan pihaknya akan turun langsung ke Tapanuli Utara untuk mengecek dokumen dan izin para pekerja.

“Namun khusus dalam kasus dugaan penganiayaan ini, kita masih menunggu laporan dari kepolisian. Jika ada dugaan penyalahgunaan atau pelanggaran dan tindak pidana keimigrasian, ya kita harus turun.”

Sebelumnya ketiga TKA asal Korea Selatan ini dilaporkan ke Polsek Pahae Jae atas dugaan penganiayaan terhadap Jimmi Maruli Tua Pakpahan (25), Rabu (27/1) lalu.

Menurut informasi, penganiayaan terjadi, Selasa (26/1) sekira pukul 22.00 WIB. Aksi itu dilakukan ketiganya di depan rumah kontrakan mereka yang tak jauh dari kediaman korban di Dusun Pakpahan, Desa Pardamean Nainggolan Kecamatan Pahae Jae. Saat itu korban melintas berjalan kaki dari depan rumah kontrakan warga Korea itu. Kemudian salah seorang dari mereka memanggil korban. Jimmi pun menuruti panggilan dan mendatangi rumah kontrakan berpagar itu. Di sana, korban bergabung dengan ketiganya.

Dalam percakapan malam itu, korban meminta untuk dipekerjakan di perusahaan di tempat warga Korea tersebut bekerja.

“Setelah kejadian penganiayaan itu saya datang ke lokasi. Saya tanya dia (korban) kenapa kau, dijawabnya dipukuli orang Korea itu. Terus saya lompati pagar rumah itu untuk menemui orang Korea itu, tapi mereka tak mau buka pintu rumahnya sebelum petugas keamanan datang. Sementara si Jimmi dibawa berobat. Kejadian itu pun diinformasikan ke Polsek,” kata Junior Panggabean, salah satu warga dusun itu menceritakan apa yang dilihatnya malam itu.

Setelah Kapolsek Pahae Jae tiba di lokasi, sempat dilakukan dialog dengan ketiga warga asing tersebut. Terungkap, diduga aksi penganiayaan itu diawali dari rasa ketersinggungan atas sikap korban kepada salah satu dari ketiganya.

“Menurut orang Korea itu, dia tersinggung karena si Jimmi menyenggol tangannya seperti ini. Lalu dia dipukuli,” ujar Junior sembari coba memeragakan dengan kedua tangannya.

Kapolsek Pahae Jae AKP T Panggabean menyebutkan, sesuai pengakuan singkat dari ketiga pekerja asal Korea itu bahwa awalnya korban datang sendiri ke rumah kontrakan mereka malam itu. Korban meminta agar diberikan pekerjaan. Namun kemudian terjadi kesalahpahaman di antara mereka hingga terjadi perkelahian.

Kapolsek membenarkan bahwa ketiga pekerja asal Korea itu bekerja untuk PT Power Tech, salah satu sub kontraktor PT Hyundai yang merupakan salah satu investor di PT SOL (Sarulla Operation Limited), perusahaan pembangkit listrik energi panas bumi di Luat Pahae, Taput.

Subscribe to receive free email updates: