Danau Toba Monaco Asia atau Macao, Kisah Wisatawan Lokal Yang Resah Atas Ulah PS di Ajibata

Newsindo.co - Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan membaca berita tentang perencanaan pembangunan Danau Toba menjadi Monaco Asia. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman akan mendorong sektor pariwisata sebagai basis unggulan perekonomian nasional. Danau Toba, Sumatera Utara, akan menjadi salah satu proyek percontohan.


Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli menuturkan, kawasan Danau Toba, akan dikembangkan oleh kementerian menjadi seperti Monaco di Eropa.


"Sebagai contoh di Danau Toba jadi Monaco, Monaco itu negara kecil di Eropa indah sekali. Kita akan ubah Danau Toba jadi Monaco Asia," kata dia di Jakarta kemarin.


Namun, ada saja ulah oknum yang membuat resah masyarakat dan nantinya cara kerja oknum ini akan berkelanjutan jika perencenaan Monaco Asia ini terjadi.


Seperti dikutip dari salah satu akun sosial media Facebook, bercerita tentang pengalamannya di Penyeberangan Ajibata Danau Toba. Berikut Kutipannya.




[caption id="attachment_597" align="aligncenter" width="850"]Monaco atau Macao, Itulah Kata Seorang Masyarakat Yang Resah Atas Ulah PS di Ajibata Danau Toba Monaco atau Macao, Itulah Kata Seorang Masyarakat Yang Resah Atas Ulah PS di Ajibata Danau Toba[/caption]

MONACO ATAU MACAO


Barangkali karena mau jadi Monaco Indonesia...maka di sini..di Ajibata, hanya mau ngambil posisi antrian, kita dimintai Rp.100.000; per mobil. Timku 2 mobil jadi Rp.200.000; Setelah nego sama PS (pemuda setempat) jadi semuanya kena Rp. 120.000 untuk 2 mobil, agar bisa masuk dalam antrian masuk komplek dermaga ferry penyebrangan Ajibata (Parapat) menuju Tomok (Samosir). Inilah biaya "hantu blau" yang lahir dari warga yang melakukan pungli secara tenang, terang dan terbuka. Ini belum termasuk biaya ferry penyebrangan yang resmi. Tampaknya suasana liburan/akhir pekan ini menjadi ruang bisnis baru.


Jadi sadarlah saya, beda tipis rupanya antara Monaco dan Macao.


Ehm..! Kalau sudah begini, tampaknya jelas harus ada intervensi untuk penertiban, pembenahan dan pengaturan antrian naik ferry yang lebih baik, demi ketenangan, keamanan dan kenyamanan para tetamu di Danau Toba.


Tapi gimana ya...tadi waktu kami nego, kata PS itu ada juganya mereka nyetor ke aparat tertentu. Jadi kayaknya udah sistemik, masif dan terstruktur. Orang dijebak dalam pilihan terbatas, wajib nyetor ke PS dan PS wajib nyetor ke oknum aparat. Satu mata rantai. Kami antri dijalan, disuruh masuk ke sebuah lapangan kecil dekat jembatan sebelum dermaga ferry, kami masuk sudah tidak ada ruang, kami diam..disuruh jalan...saat jalan dan masuk antrian datanglah PS tadi beraksi. Kalo di hypnosis, teknik ini disebut bind teknik. Jago juga PS-nya bah! Untunglah sumbuku udah panjang sekarang.


Tapi sudahlah...semoga menjadi berkah buat yang bersangkutan. Hehehe...selamat sore...mari antri dengan tertib dan sabar. Horas...! Salam Joss..!


Ajibata, 06 Februari 2016


source : https://www.facebook.com/bung.joss/posts/688693907937692

Subscribe to receive free email updates: