PT. TPL Telah Merusak Kelestarian Hutan Nagasaribu, Masyarakat Akan Tetap Berjuang

Newsindo.co, Siborongborong - Masyarakat adat Nagasaribu akan tetap berjuang sampai pengakuan hukum Negara, mereka peroleh. Tanah adat dan hutan seluas 1000 ha, tempat kemenyan (haminjon) tumbuh ini,  telah mereka duduki dan kelola, secara turun temurun 350 tahun lebih, tempat mencari nafkah.

Hutan adat yang dikelilingi kawasan konsesi PT.TPL telah menghawatirkan masyarakat sekitar. Debit sumber air bersih setiap tahun berkurang khususnya di Nagasaribu dan desa Dolok Paung, Aek Sirambe, Aek Sirara. Perusahaan menanami eukaliptus di seluruh daerah aliran sungai dengan merusak kelestarian hutan merugikan masyarakat.
Kadep Diakonia Pdt. Adventus Nadapdap bersama Staf Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan diskusi bersama masyarakat nagasaribu, raja patik, tokoh adat, penatua gereja HKI, HKBP dan GPI tentang Tata Kelolah Hutan dan Masyarakat adat.

Masyarakat sangat sering konflik terkait batas lahan, mengusik hutan haminjon sumber ekonomi penduduk. Masyarakat menilai, tindakan PT TPL rentan pengrusakan sumber daya alam dan perampasan lahan adat.
Upaya advokasi terus mereka perjuangkan sampai tanah dan hutan adat diakui secara hukum negara. Masyarakat berharap,  kedaulatan untuk memiliki, mengelola serta menjaga sumber daya alam di atas tanahnya,  dapat mereka pertahankan.

Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) melalui Departemen Diakonia tetap mendampingi masyarakat melalui upaya advokasi yang mereka tempuh. “Tanah dan hutan adat, harus tetap terjaga dan terpelihara untuk menjaga kelestarian Alam sekaligus sumber ekonomi hidup warga” sebut Pdt. Adventus Nadapdap, S.Th kepada MBW.

Op. Grace Simanjuntak (Seorang Raja Patik) menuturkan kepada MBW (2/8), parhutaan (perkampungan) adat Nagasaribu yang dibuka  marga Simanjuntak dan Sianipar. Secara adat, telah diresmikan (diojakhon) Raja Sisingamangaraja XII, Bersamaan peresmian pekan onan harbangan”.

Peresmian diikuti ritual penanamam empat  pohon bintatar. Melambangkan, empat marga: Tuan si Hubil Tampubolon, Tuan So Manimbil Simanjuntak, Tuan Dibangarna dan Tuan di Sonak Malela.

Raja Sisingamangaraja mengucapkan doa: Ojak ma Adat, ojak ma uhum, jonjongma patik (berdirilah adat, hukum, undang-undang adat). Saat itu, Raja Sisingamangaraja juga  memberikan pusaka atau barang yang berharga bagi keturunan adat mereka.
  1. Hatian na sora Teleng (Timbangan yang seimbang) ima dipegang Datu Pijor Simanjuntak
  2. Solup Si Opat Bale (empat takar) ima dipegang Datu Dolok Simanjuntak
  3. Parmasam (12 Solup) ima dipegang Sianipar
Asa Garang-garang ni lautan, ni onjat tu hirang ni hoda
Molo marbada Simanjutak, Sianiparma Sidabu tola

Sistem pemerintahan adat masih tetap terjaga dan berlangsung sebagaimana sejarah ringkas berdirinya masyarakat adat tersebut.  Masyarakat Nagasaribu masih tetap terikat hukum adat (patik), meliputi hukum kekerabatan, hukum sosial, ritual pesta adat, hutan haminjon, pertanian, dan lain sebagainya.

Saat ini, masyarakat adat dipimpin raja patik, dipilih dari warga secara demokratis dengan mempertimbangkan dedikasi dan moralnya yang kuat.

=> PT. TPL Telah Merusak Kelestarian Hutan Nagasaribu, Masyarakat Akan Tetap Berjuang

Subscribe to receive free email updates: